SELAMAT DATANG DI PRABU MEDIA
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

TMII Objek Wisata Edukasi yang Prestisius, Mahakarya Ibu Negara

Prabumedia, Jakarta – Objek wisata prestisius dengan konsep implementasi edukasi yang menampilkan Teritorial Indonesia dalam bentuk mini maket lengkap dengan keberagaman seni dan budaya nya, hal ini menunjukan sebuah kecintaan, rasa dan jiwa nasionalisme seorang figur Ibu Negara yang mana hingga saat ini belum ada satu figur/tokoh sekalipun yang mampu dan memiliki hati serta pemikiran yang sedemikian mencintai negara dan bangsanya seperti Ibu Hj.Tien Soeharto.

Konsep pemikiran yang tumbuh didasari oleh semangat dan jiwa kecintaan terhadap bangsa dan negara tersebut tak lepas dari sikap, sifat dan kepribadian seorang Hj. Tien Soeharto yang berasal dari keluarga ningrat dan sarat akan aturan Toto Kromo, Adab, Adat dsb, hingga melahirkan sikap mendidik yang dalam bahasa Jawa halus Tut Wuri Handayani dimana melalui wisata edukasi itu seorang Hj. Tien Soeharto yang kita kenal sebagai istri orang nomer satu di Republik ini di era orba mencoba ingin menanamkan kecintaan pada generasi bangsa sejak dini terhadap bangsa dan negaranya.

Berbagai wahana rekreasi dan edukasi lengkap dengan pulau dan adat istiadat hingga kesenian ditampilkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tersebut.
TMII bukan proyek ekslusif dan ekspensif seperti Ancol dengan Dufan nya dimana saat era pemerintahan Soeharto, kita tahu banyak sekolah-sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA melakukan karya wisata disaat menjelang libur sekolah, tidak seperti saat setelah pasca Reformasi dimana penanaman rasa dan jiwa kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air semakin semu bahkan kabur dan menjauh tergantikan oleh budaya import dsb.

Dengan harga tiket relatif murah dan merakyat dapat kita lihat bahwasannya ibu negara Hj. Tien Soeharto ingin mendedikasikan konsep pemikirannya tersebut secara utuh untuk rakyat Indonesia.
Sangat disayangkan langkah politis pemerintah saat ini yang dengan arogansi kekuasan serta ambisi politis mencoba menguasai aset wisata edukasi itu secara sepihak, melalui kekuatan Perpres yang dikeluarkan, sehingga masyarakat bertanya-tanya, akan dibawa kemana arah langkah tersebut apalagi pengambilalihan aset wisata itu melalui Perpres 19 Tahun 2021 yang berisikan “Penyelengaraan Pengadaan Tanah untuk Pembangunan….dst” hal ini menimbulkan berbagai macam asumsi ditengah masyarakat atas langkah pemerintah tersebut dalam hal ini Kemensesneg.

Salah satu elemen masyarakat yang mengkritisi hal tersebut datang dari lembaga LSM GDC’98, Andy Sekjen GDC’98 saat dimintai pandangannya terkait hal ini, mengatakan sangat menyayangkan langkah pemerintah tersebut, sarat kepentingan politis hingga ekonomis, dimana salah satunya pemerintah mengambilalih objek tersebut atas dasar unsur pendapatan negara sementara kita tahu tiket masuk areal wisata tersebut paling murah diantara objek wisata lainnya yang ada, bahkan kata Andy bahwansannya Yayasan pak Harto (Harapan Kita) yang disebut-sebut sebagai pengelola justru sering kali menutupi biaya pengelolaannya, artinya bukan untung yang diraih tapi malah buntung, seperti ada disinformasi dalam hal ini sehingga mengapa pemerintah justru memaksakan untuk merebut objek tersebut yang secara sejarah dalam pembangunannya lebih banyak peran serta ibu Hj. Tien Soeharto dengan menggandeng para istri kepala daerah bukan pemerintah saat itu, demikian pungkas Andy saat ditemui oleh media diakhir percakapan. (RedCorps)

Di Terbitkan Pada 11 April 2021 by Prabu Media

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed