SELAMAT DATANG DI PRABU MEDIA
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

Progresif, Lagi – Lagi Ini Yang Dilakukan Oleh Petani Muda

Prabumedia, Belu – Warga Desa Leuntolu, Kecamatan Raimanuk – Kabupaten Belu kembali melakukan aksi panen tanaman holtikultur di lahan produksi, pada Kamis, (29/04/2021) tepat Pukul 10:00 WITA.

Sesuai informasi, tanaman holtikultura ini merupakan jenis tanaman yang sangat dibutuhkan oleh para konsumen.

Yohanes Bau menyampaikan kepada media ini terkait tahapan – tahapan yang harus dilakukan oleh semua pekerja tanaman holtikultur.

“Langkah awal yang harus dilakukan oleh pekerja adalah menyediakan lahan yang dipakai sebagai mediator untuk penanaman. Lahan yang disediakan adalah berupa bedeng dengan ukuran tinggi dan lebar maksimal 20 cm dan 30 cm”, ungkapnya ketika dijumpai media.

Setelah menyiapkan lahan, tambahnya, langkah selanjut adalah melakukan penanaman benih. Benih tanaman yang ia gunakan selama ini adalah benih sayur putih pakcoi yang berlabel SHINTA yang merupakan hasil produksi oleh PT. East West Seed – Panah Merah Indonesia.

“Keunggulan dari benih yang saya gunakan selama ini diantaranya: ukuran batang tanaman relatif besar, menghasilkan daun yang lebat dan lebar serta dapat menahan hama dan penyakit gulma. Saya juga memakai pupuk UREA dalam proses pemeliharaan untuk mendukung proses pertumbuhan tanaman. Biasanya ketika usia tanaman sekitar 20 hari setelah penanaman baru dilakukan pemupukan”, tandasnya.

Diruang yang sama, Primus Toy, memberikan dalil bahwa, tanaman baru akan dipanen apabila usianya sudah berkisar antara 28 s/d 30 hari terhitung setelah melakukan penanaman di ladang. Untuk pengairannya pun sangat mudah. Setelah tanaman siap untuk dipasarkan, mereka mengekspedisi ke beberapat pasar lokal yang ada di sekitar Kab. Belu, Kab. TTU dan Kab. Malaka.

Modal yang dipakai, lanjutnya, adalah sebesar satu juta rupiah, sudah mencakup semua segi pengeluaran selama ini. Dari hasil pasarannya kami bisa memperoleh penghasilan untuk satu kali panen yang berkisar antara 3 sampai dengan 4 juta rupiah tergantung putaran ekonomi di pasar.

Harapannya, kedepannya akan tetap memproduksi tanaman ini agar bisa memenuhi kebutuhan konsumen yang ada di Daerah Belu, Malaka dan TTU.

“Kedepannya kami akan berusaha untuk menyediakan stock tanaman yang lebih banyak lagi”, tutupnya.

(Leto/Prabumedia)

Di Terbitkan Pada 29 April 2021 by Prabu Media

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *