SELAMAT DATANG DI PRABU MEDIA
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

Kisah Watu Umpu dan Gunung Poso Kuwus di Manggarai Barat, Flores, NTT

Penulis: Aldi Jemadut

Dahulu kala ada satu keluarga yang terdiri dari kakak dan adik yang tinggal dalam satu rumah disebuah desa. Sang kakak sudah beristri dan istri tersebut juga tinggal bersama-sama dalam rumah tersebut. Seperti layaknya penduduk desa, sang kakak memiliki rutinitas untuk bekerja menggarak ladang dikebun setiap hari. Sang istri mengerjakan pekerjaan rumah dan ditemani oleh sang adik. Lambat laut sang adik entah mempunyai rasa terhadap istri sang kakak dan mulai menggodannya. Sang adik menggodai istri sang kakak ketika sang kakak menggarak ladang dikebun. Prilaku sang adik setiap hari makin menjadi-jadi, istri sang kakak yang tidak tahan terhadap prilaku sang adik, kemudian melaporkannya kepada sang kakak. Ketika mendengar cerita dari sang istri, sang kakak pun menjadi marah terhadap sang adik. Sang kakak kemudian mengusir sang adik keluar dari rumah dan pergi sejauh mungkin dari hadapannya, sang adikpun menerima hukuman dari sang kakak dan akhirnya pergi dari rumah tersebut.

Sesampainya di desa Lasang, sang adik menoleh kebelakang dan bertanya kepada sang kakak, ”ndo’o ko toe”(apakah disini cukup jauh atau tidak), sang kakak menjawab “toe, lau-lau koe (belum, jauh-jauh lagi atau tempat tersebut belum cukup jauh dan meminta sang adik untuk pergi lebih jauh lagi). Sebelum pergi ketempat tersebut sang adik menyempatkan diri untuk kencing. Karena perintah sang kakak, sang adik pun berjalan lebih jauh lagi hingga sampai di desa Ranggu. Di desa ranggu tersebut sang adik kembali bertanya kepada sang kakak, dan jawaban sang kakak pun sama, kurang jauh dan sang adik berjalan lebih jauh lagi. Jauh sang adik berjalan hingga kemudian menemukan sebuah desa. Saat menoleh kebelakang sang adik tidak dapat melihat sang kakak, dan sang kakak pun tindak mendengar suara dan dari sang adik untuk menyuruh lebih jauh lagi. Sang adik pun sudah menyimpulkan desa tersebut sudah cukup jauh dari sang kakak dan mengutuskan untuk berhentikan disitu. Di desa tersebut terdapat sebuah gubuk dengan dua orang penjaga didalamnya. Dua orang tersebut sedang melakukan “Tokong” dalam bahasa Maggarai. Tokong berarti menjaga tanaman disaat malam hari. Diceritakan saat itu kedua orang tersebut sedang menjaga ladang mereka yang siap-siap untuk dipanen. Karena biasanya saat ladang siap untuk panen tumbuhan seperti jagung, padi atau semacamnya terancam dimakan oleh babi hutan dan binatang-binatang lainnya.

Sang adik yang sedang kelelahan berjalan jauh meminta ijin kepada kedua orang tersebut untuk dapat beristirahat disitu. Kedua orang tersebut pertama-tama tidak menerimannya, karena gubuk tersebut tergolong kecil dan hanya cukup diisi oleh dua orang. Entah karena bujuk rayu atau merasa kasihan akhirnya kedua orang tersebut menerimanya. Sang adik kemudian minta izin untuk bermalam digubuk tersebut dan meminta kedua orang tersebut untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Sang adik menawarkan diri untuk menjaga ladang tersebut agar tidak terserang oleh binatang yang kelaparan. Kedua orang tersebut menolak lagi permintaan dari sang adik, tetapi entah karena bujuk rayu atau karena apa kedua orang tersebut menuruti permintaan sang adik. Mereka berdua pulang kerumahnya dan mempercayakan ladangnya dijaga oleh sang adik. Ke-esokan harinya kedua orang tersebut kembali ke ladangnya, mereka pun kaget melihat bahwa ladang sudah tidak ada lagi dan berubah menjadi sebuah bongkan batu yang besar. Setelah mereka lihat dengan cermat, ternyata ladang beserta tumbuhan didalmnya sudah berada diatas batu besar tersebut, dan sang adik yang tidur di gubuk sudah tidak ada lagi.

Bongkahan batu besar yang dikenal dengan “Watu Umpu” tersebut dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai sang adik, dan sang kakak yang megusirnya adalah “Gunung Poso Kuwus” itu sendiri, dan ditempat adik kencing di desa Lasang sekarang menjadi rawa-rawa yang sangat dalam dan selalu tergenang air karena terdapat sumber air disana. Diantara “Gunung Poso Kuwus dan Watu Umpu”, terdapat sebuah gunung kecil dengan sebuah desa diatasnya. Gunung kecil ini menjadi pemisah antara “Gunung Poso Kuwus dan Watu Umpu”. Karena kehadiran gunung kecil ini yang menjadi penanda bahwa sang adik atau “Watu Umpu” sudah tidak terlihat lagi dari pandangan sang kakak atau “Gunung Poso Kuwus”.

Yang menarik dari “Watu Umpu” ini, jika dilihat dari samping batu yang paling depan berbentuk seperti wajah manusia, dan lengkap dengan dahi, mata, hidung, mulut, dagu hingga jenggot. Batu berbentuk wajah dari samping tersebut terlihat menghadap langsung kearah “Gunung Poso Kuwus” atau sang kakak.

Di Terbitkan Pada 2 Mei 2021 by Prabu Media

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *