SELAMAT DATANG DI PRABU MEDIA
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

Paus Fransiskus Serukan Rezim Militer Myanmar Izinkan Bantuan Internasional

Paus Fransiskus. (Wikimedia Commons/Aleteia Image Department)
Paus Fransiskus. (Wikimedia Commons/Aleteia Image Department)

PRABUMEDIA, JAKARTA – Paus Fransiskus meminta rezim militer Myanmar mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan menghormati tempat-tempat perlindungan netral seperti kuil hingga sekolah.

Berbicara dalam pemberkatan Hari Minggu di hadapan ummat di Lapangan Santo Petrus, Vatican, Minggu 20 Juni, Paus menyerukan untuk memberi perhatian dan bantuan kepada ribuan warga Myanmar yang telah kehilangan tempat tinggal dan kelaparan, seperti dikutip dari Vatican News

Selain itu, dalam rangka Hari Pengungsi Sedunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Paus menyerukan umat untuk membuka hati, berbagai kesedihan dan kegembiraan bersama dengan para pengungsi di seluruh dunia. 

Lebih jauh mengenai Myanmar, Paus menyatakan doa dan dukungannya bersama Uskup Katolik Myanmar, yang meminta agar rezim militer Myanmar mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan 

Mengutip Reuters, Paus Fransiskus, yang telah mengajukan banyak permohonan untuk pembebasan tahanan politik di Myanmar, berbicara tentang “pengalaman memilukan dari ribuan orang di negara itu yang terlantar dan sekarat karena kelaparan”.

Paus juga menyerukan agar rezim militer Myanmar menghormati gereja, pagoda, biara, masjid, kuil, sekolah dan rumah sakit, sebagai tempat perlindungan yang netral bagi warga sipil Myanmar. 

Sebelumnya, Majelis Umum PBB pada Jumat pada Jumat 18 Juni pekan lalu menyerukan penghentian aliran senjata ke Myanmar, mendesak militer untuk menghormati hasil pemilihan November dan membebaskan tahanan politik, termasuk pemimpin yang ditahan Aung San Suu Kyi.

“Risiko perang saudara skala besar adalah nyata,” kata utusan khusus PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener kepada Majelis Umum setelah pemungutan suara.

“Waktu sangat penting. Kesempatan untuk membalikkan pengambilalihan militer semakin menyempit,” sambungnya.

BACA JUGA:


Untuk diketahui, hingga Minggu 20 Juni Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mencatat 872 warga sipil tewas dan 6.219 orang ditahan, dengan 5.033 di antaranya masih berada dalam tahanan sejak kudeta rezim militer Myanmar 1 Februari lalu.(voi)

Di Terbitkan Pada 21 Juni 2021 by Prabu Media