SELAMAT DATANG DI PRABU MEDIA 
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

Panglima Teroris Poso Ali Kalora Tewas Ditembak, Ini Masa Lalunya

Danrem 132/Tadulako, Brigjen Farid Makruf, selaku Wakil Penanggung Jawab Kendali Operasi Satuan Tugas Madago Raya, membenarkan telah terjadi kontak tembak dengan teroris tersebut dan terdapat dua personel MIT yang tewas, salah satunya Ali Kalora.

“DPO diduga Ali Kalora dan Jaka Ramadhan,” kata Brigjen Farid.

Dari dua foto jenazah yang diperoleh, keduanya nampak berkondisi mengenaskan. Satu jenazah Kalora dan satunya lagi Jaka Ramadhan. Salah satu jenazah tampak berambut panjang dan menggendong ransel. Dia memeluk senjata tajam yang masih berada di dalam sarungnya. Adapun sepucuk senapan serbu tergeletak di belakangnya.

Sepak terjang Ali Kalora

Kalora lahir pada 30 Mei 1981 di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Orangtuanya memberi nama dirinya Ali Ahmad. Namun, dia lebih dikenal sebagai Ali Kalora sesuai nama desa kelahirannya.

Dia adalah salah satu pengikut pemimpin MIT bernama Abu Wardah Asy Ayarqi alias Santoso. Ia sudah mengikuti sepak terjang Santoso sejak 2011. Karena Santoso memercayainya, Kalora segera menjadi salah satu petinggi MIT menggantikan Daeng Koro yang tewas pada 2015.

Tak cuma itu, dia mengenal betul medan gerilya MIT karena daerah itu adalah tanah kelahirannya. Kemudian Santoso tewas dalam baku tembak di Pegunungan Poso, Sulawesi Tengah pada 18 Juli 2016.

Sementara itu, Ridlwan Habib, pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, menilai Kalora tak memiliki pengaruh sekuat Santoso, yang mampu merekrut puluhan orang.

Basri, orang nomor 2 di MIT ditangkap pada 2016.
Basri, orang nomor 2 di MIT ditangkap pada 2016.

Dia adalah ‘petinggi’ yang tersisa dari kelompok militan Islam yang berbasis di Poso, Sulawesi Tengah, semenjak Santoso alias Abu Wardah tewas dalam penyergapan aparat keamanan pada 2016 lalu.

Dia juga ditunjuk sebagai pemimpin kelompok itu menyusul diringkusnya pentolan kelompok Muhajidin Indonesia Timur (MIT) Basri alias Bagong, di tahun yang sama.

Menurut polisi, semenjak dua tahun lalu, kelompok ini mengalami penyusutan jumlah anggota, karena sebagian besar ditangkap atau tewas dalam baku tembak dengan pasukan gabungan TNI-polisi dalam operasi Tinombala.

Namun namanya mulai disebut-sebut lagi setelah temuan mayat tanpa kepala di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Montong, Sulteng, pada 2019 lalu.

Bukan figur kombatan

Kata Ridlwan, disitat BBC, Kalora bukanlah figur kombatan, tidak memiliki keahlian apa-apa, serta kemampuan gerilyanya sangat terbatas, karena dia belum pernah ke medan konflik.

Kecuali kemampuannya untuk bertahan hidup dalam pelarian. Dengan logistik yang terbatas, Kalora bisa menjadi apa saja, menyamar menjadi warga lokal, bahkan petani dan jalan sejauh itu.

Ilustrasi terorisme. Foto: DW.com
Ilustrasi terorisme. Foto: DW.com

Sosok Ali Kalora ini, menurutnya, berbeda jauh dengan bekas pemimpin MIT, Santoso, yang tewas dalam baku tembak dengan TNI-polisi. Yang disebut terakhir ini memiliki keahlian propaganda.

Adapun Ali Kalora, tambahnya, saat ini menghindar dari kejaran aparat TNI-polisi dengan “menyamar menjadi warga lokal”. Semula Ridlwan menganggap Ali Kalora sudah menyerahkan diri kepada aparat kepolisian – secara diam-diam – setelah istrinya tertangkap.

Karena namanya tak terdengar kabarnya lagi dari Dusun Tamanjeka di Poso. Tetapi, tapi ternyata dia masih ada.(hops)

Di Terbitkan Pada 19 September 2021 by Prabu Media

data-recalc-dims="1"

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed