SELAMAT DATANG DI PRABU MEDIA 
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

Gatot Goreng Isu PKI Ternyata Demi Kepentingan Politik Ini, Bakal Pilpres 2024?

PRABUMEDIA, JAKARTA – Sosok mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo jadi perbincangan hangat usai kembali melontarkan isu tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) atau ideologi terlarang komunisme.

Menanggapi ujaran yang dilontarkan oleh seorang mantan elite TNI tersebut, Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studios (ISESS), Khairul Fahmi menilai ada unsur kepentingan politik.

Fahmi mengatakan, walaupun masa jabatan Gatot telah usai alias pensiun dari TNI, belakangan dia banyak terlibat dalam berbagai kegiatan yang bersifat politis.

Salah satu di antaranya yang sering digemborkan terkait isu PKI yang kembali bangkit di Indonesia.

Oleh sebabnya, menurut Fahmi, isu yang coba dimainkan oleh presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) ini tentu bermuatan kepentingan politik.

“Sulit untuk tidak melihat bahwa peringatan Gatot soal bahaya laten komunis itu diangkat untuk kepentingan politiknya,” kata Fahmi, mengutip Tempo pada Selasa, 28 September 2021.

Film G30SPKI. Foto: Ist
Film G30SPKI. Foto: Ist | Ternyata Gatot goreng isu PKI demi kepentingan politik ini

Fahmi membeberkan kepentingan politik yang dengan sengaja dikejar Gatot secara konsisten di balik adanya narasi komunisme setiap mendekati peringatan peristiwa 30 September 1965 atau G30S ini.

Dia menjelaskan, langkah tersebut dipilih Gatot tak lain untuk menjaga popularitas atau elektabilitasnya sebagai tokoh publik.

“Tanpa kita sadari, dia menjadi top of mind dan menjadi bagian dari perbincangan, perdebatan dan pemberitaan. Ya wajar saja, jika Gatot Nurmantyo secara konsisten memilih isu ini untuk menjaga dan mengelola eksistensinya,” tuturnya.

HUT PKI. Foto: Dok Historia.
HUT PKI. Foto: Dok Historia.

Terlebih, isu G30S dianggap masih sangat menarik dan sensitif bagi sebagian masyarakat, terutama kelompok-kelompok Islam maupun kelompok-kelompok yang terasosiasi dengan militer.

Di samping itu, narasi komunisme juga banyak diminati oleh influencer dan buzzer di jejaring media sosial.

Kendati demikian, Fahmi khawatir mengaku isu ini bisa menghadirkan polarisasi, memelihara kecurigaan, dan menyebar rasa takut di kalangan masyarakat jika terus dipelihara.

“Jika mendapat ruang terus-menerus, perpecahan yang mestinya bukan ancaman faktual ini malah berpotensi menjadi faktual,” imbuhnya.(hops)

Di Terbitkan Pada 28 September 2021 by Prabu Media

data-recalc-dims="1"

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed