SELAMAT DATANG DI PRABU MEDIA 
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI KAMI
SAMPAI JUMPA LAGI
oleh

Capaian Keberhasilan Program Merdeka Belajar: Humanisme Pendidikan dan Pendidik

Penulis: Suten Sumarten, Pemerhati Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) – Sumbawa


Kebijakan Menteri Nadiem Makarim mengisyaratkan bahwa pendidikan itu menyesuaikan karakter siswa. Supaya minat belajar meningkat dan semangat para pendidik juga tidak kendor.

Program Merdeka Belajar sala satu yang diusung Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud) dianggap ide dan gagasan briliant.

Program tersebut, telah berjalan selama dua tahun. Bahkan, proses Merdeka Belajar dapat menelisik kembali spesifikasi individu yang bisa melahirkan siswa – siswa berprestasi.

Merdeka Belajar telah membawa berbagai perubahan di dunia pendidikan. Para guru saat ini telah memahami cara memberikan pembelajaran yang efektif. Ada perubahan mindset guru-guru diberbagai sekolah, ada visi ada tujuan.

Di saat mindset connect, maka teknik mengajar dan menyusun pembelajaran dapat diseimbangkan sehingga outputnya berkualitas. Esensi Merdeka Belajar yang dimaksud bukan seperti itu. Memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih pelajaran sesuai minat mereka.

Cara mengajar guru yang feodal selama ini, harus ditinggalkan sama sekali. Sekarang, model pembelajaran yang sifatnya Sosio kultural dapat diperdalam pada saat jam belajar mengajar.

Hal ini menjadi sebuah kemajuan bagi guru di Indonesia. Artinya Merdeka Belajar cocok diterapkan. Guru-guru Indonesia pada saat ini sedang bergerak sehingga sangat mudah terjadi transformasi dalam berfikir.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim, katakan bahwa dituntut kreativitas Guru dalam proses Merdeka Belajar. Kemerdekaan dalam proses belajar menjadi target. Dalam Merdeka Belajar, guru-guru dan kepala sekolah punya kebebasan untuk merancang proses pembelajaran dengan cara yang paling cocok untuk para murid.

Kondisi wilayah, kemampuan sekolah, serta daya belajar siswa memiliki perbedaan yang tidak bisa disamakan satu sama lain. Apalagi jika berkaitan dengan teknologi. Semua murid itu berbeda. Di sekolah yang berbeda maka akan berbeda. Di sekolah yang ada di pegunungan, pesisir, kota, desa atau kampung itu akan berbeda-beda proses pembelajaran yang kondusif.

Siswa dapat menikmati proses pembelajaran dengan bebas tanpa hambatan dan tekanan psikologis. Harapannya, siswa bisa lebih mandiri untuk belajar dan mendapat pemahaman. Merdeka belajar juga penting membangun suasana belajar yang menyenangkan antara pendidik dan siswa, di mana siswa diberi hak untuk belajar.

Sementara itu, terkait dengan pengaruh teknologi dimasa pembelajaran daring, Guru-guru harus melatih dirinya sendiri sehingga teknologi bukan hanya untuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sebagai cara implementasikan hal ini, guru di sekolah merancang metode pembelajaran berbasis proyek untuk memacu kreativitas siswa.

Tetapi, bisa untuk berbagai macam kegiatan, diantaranya: Pertama, Bisa untuk melakukan online university untuk meningkatkan kemampuan.

Kedua, menggunakan aplikasi untuk mengakses atau evaluasi level kompetensi murid agar bisa dipetakan mana murid yang ketinggalan dan mana yang lebih maju.

Ketiga, tempat untuk kolaborasi dan berbagi dengan guru-guru lain. Keempat, bisa menurunkan beban administrasi sekolah, sehingga guru bisa fokus terhadap perkembangan belajar murid

Jadi peran teknologi itu jauh lebih variatif karena pertama kalinya teknologi digunakan untuk sekolah secara. Juga terdapat manfaat lain dari teknologi yang selama ini dipakai seperti google class room.

Guru tak hanya bisa menggunakan untuk pembelajaran jarak jauh tapi bisa juga digunakan untuk off learning seperti komunikasi dengan orang tua, mengatur jadwal kelas, dan membuat grup-grup kecil untuk berkomunikasi dengan murid.

Singkatnya, pendidikan baru dikatakan berhasil tatkala individu itu bisa terlibat aktif dalam pembelajaran dan mendapat banyak pengalaman untuk bekal hidupnya. Sebagai pelajar, menurut sudut pandang filsafat ini, guru harus luwes dan fleksibel karena dipandang sebagai makhluk yang dinamis dan kreatif sehingga Merdeka Belajar dapat diraih.

Semua guru dan sekolah harus pertimbangkan fungsi pendidikan yaitu untuk memberikan kemerdekaan dan kebebasan kepada individu sehingga potensi-potensinya dapat berkembang dengan baik. Kemerdekaan belajar harus dihubungkan dengan pemahaman dan mempelajari, bukan sekedar belajar “apa” nya, tetapi juga “bagaimana”. Learning how to learn, dengan begitu dapat mencapai kemampuan untuk belajar dengan “merdeka”.[]

Di Terbitkan Pada 4 Oktober 2021 by Prabu Media

data-recalc-dims="1"

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed